Jerat Cinta

Jerat Cinta

Pengkhotbah 7:23-29 ;  Amsal 7

Dan aku menemukan sesuatu yang lebih pahit dari pada maut: perempuan yang adalah jala, yang hatinya adalah jerat dan tangannya adalah belenggu… Pengkhotbah 7:26

Memiliki banyak istri atau wanita, bagi para pria pada jaman dahulu bisa dipandang sebagai tanda kekuasaan dan juga kejayaan yang besar. Lihat saja Salomo dengan 300 istri dan 700 selirnya. Namun ada pertanyaan juga, mengapa orang percaya dilarang untuk berpoligami. Jawaban yang sederhana dan mendasar adalah, ketika Allah menciptakan Adam, Dia tidak menciptakan Hawa, lalu Susi, Ratna, Wati atau yang lainnya. Allah tidak menciptakan selir dan pilihan wanita lain bagi Adam. Pernikahan adalah ikatan hubungan seumur hidup antara satu pria dan satu wanita (Kejadian 2:24). Contoh Alkitabiah inilah yang menyingkirkan poligami dari rencana Allah bagi manusia.

Namun di bagian Alkitab yang lain, kita temukan juga kasus poligami tetap terjadi. Alasan yang sama adalah sama dengan alasan Musa mengijinkan perceraian, yakni karena kekerasan hati manusia itu sendiri. (Matius 19:7-8) Salomo sendiri adalah contoh utama yang pada kenyataannya mengalami apa yang sudah dilarang Tuhan dalam Ulangan 17:17. Hingga akhirnya istri-istrinya itulah yang memalingkan hatinya dari Tuhan (I Raja-raja 11:1-4).

Keadaan sekarang tidaklah jauh beda, kita pun diperhadapkan pada masalah perselingkuhan, perceraian sampai poligami. Pencobaan yang sama untuk menguji hati dan ketaatan kita. Pria yang salah atau wanita yang salah kita pilih, dapat membuat kita berpaling dari Tuhan. Ketidaksetiaan kita kepada pasangan – dengan dalih rasa cinta terhadap pria atau wanita lain – membuat kita kehilangan prioritas kepada Tuhan. Dan celakanya, ketika Tuhan tidak lagi menjadi yang utama di dalam hidup kita, maka segera hidup kita menjauh dari-Nya dan kehilangan rencana indah-Nya dalam hidup kita. Dunia penuh kemungkinan, jangan berkata bahwa aku kebal terhadap masalah ini. Orang sekuat Simson, sehebat Daud, atau pun sebijak Salomo saja bisa terjerat persoalan ini. Bisa saja itu terjadi pada kita, jadi jangan biarkan jerat cinta yang salah menjauhkan kita dari Tuhan. Jangan memberi sedikitpun peluang pada perselingkuhan. •Amos

Ketika Tuhan tidak lagi menjadi yang terutama dalam hati kita, saat itulah kita kehilangan segalanya dalam hidup ini.