Pursuit of Happiness

Pursuit of Happiness

Pengkhotbah 9:1-12

Ayo, makanlah saja dan bergembira, minumlah anggurmu dengan sukacita. Allah tidak berkeberatan, malahan Ia berkenan.
Pengkhotbah 9:7 – BIS

Kalau sebuah keluarga berencana untuk liburan selama beberapa hari, biasanya siapakah yang paling repot? Ibu. Umumnya, para ibu akan disibukkan dengan ketersedian perlengkapan liburan. Membuat catatan barang-barang yang perlu dibawa. Pakaian yang mencukupi, mainan bila membawa anak-anak, snack, susu, obat-obatan, perlengkapan mandi, sampai segala macam barang-barang yang tak terlalu dipusingkan oleh kaum pria. Bagi yang perfeksionis dan disiplin, tak lupa juga membuat catatan jadwal kegiatan liburan. Tempat mana saja yang akan dikunjungi, berapa jam waktu yang akan dihabiskan disana, mau makan dimana, dsb.

Persiapan yang baik tentunya diharapkan akan membuat acara liburan berjalan baik dan menyenangkan, bukan? Namun kadang kala, muncul beberapa hal yang tak terduga yang mengganggu kesenangan liburan kita. Misalnya saja botol susu yang ketinggalan. Wah, ibu-ibu biasanya akan langsung panik jika sampai ini terjadi. Menyalahkan baby sitter yang lalai atau mengomeli suami yang tak memasukkan semua barang ke bagasi dengan benar. Belum lagi kalau hotel yang sudah dibooking ternyata salah mencatat tanggal check in atau persoalan besar lainnya. Tak jarang gara-gara hal-hal seperti ini, suasana sepanjang liburan jadi berubah. Suami istri jadi saling menyalahkan, lalu bersitegang. Anak-anak jadi ikut kena marah juga, dsb. Kalau sudah begini, kita jadi bingung sendiri — sebenarnya liburan untuk bersenang-senang atau untuk apa?

Hidup juga mirip seperti itu. Kita mengejar kebahagiaan dalam hidup, namun disibukkan dengan hal-hal tak penting yang membuat diri kita jadi stress. Kita ingin punya cukup uang untuk bergembira, namun dalam pekerjaan kita tidak merasa gembira. Kita ingin membahagiakan anak-anak, tapi kita sering melukai mereka dengan kata-kata kita. Kita disibukkan dengan pelayanan sampai-sampai kita lupa berdoa dan mengabaikan keluarga. Kita lupa bahwa hidup yang dianugerahkan oleh Tuhan ini adalah untuk kita nikmati. Tuhan tak ingin melihat kita stress dalam menjalani waktu-waktu hidup kita. Hidup ini diciptakan oleh Tuhan untuk kita nikmati. Bagaimana cara kita menikmatinya? Tentu saja dengan hidup sesuai dengan petunjuk-Nya. Hidup ini ibarat sebuah perjalanan, pada akhirnya nanti kita akan tiba pada tempat yang sama — ke rumah-Nya. Tapi bagaimana cara kita menikmati perjalanan kita adalah tergantung pilihan kita sendiri. *tms

Hidup adalah sebuah perjalanan, jadi nikmati saja pemandangannya!