Bosan itu Penting

RH Spirit Woman 01 Juli 2020

Efesus 5:16, Kolose 3:23

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Roma 12:2

 

Jika anak tiba-tiba demam tinggi, sebagai orang tua, kita tentu berusaha membuat suhunya kembali normal. Menurut ilmu medis, naiknya suhu tubuh (demam) itu sebenarnya cara alami tubuh saat melawan virus yang masuk ke tubuh. Bukan berarti jika anak demam lalu kita biarkan. Justru jika anak demam, kita jadi tahu bahwa ada virus masuk, sehingga harus segera diobati.

Rasa bosan ibaratnya adalah demam. Meski tak enak tapi sebenarnya juga ada manfaatnya. Ketika kita mulai bosan, kita harus berusaha mencari cara agar kembali bergairah dan bersemangat. Nah, bagaimana jika yang terasa membosankan adalah kehidupan pernikahan kita? Perasaan bosan menandakan adanya hal yang perlu diperbaiki atau disegarkan kembali. Dalam komunikasi, misalnya. Banyak suami istri setelah lama menikah lalu obrolannya hanya soal anak, pengeluaran, pekerjaan, dan tak lagi bicara tentang impian dan harapan berdua. Akibatnya, pernikahan seolah hanya soal tugas dan masalah yang tak ada habisnya. Itu melelahkan dan menjenuhkan. Dalam kehidupan seksual, sebagai istri kita melakukannya hanya sebagai kewajiban atau istilah sebagian orang “kewajiban melayani suami”. Hal itu kemudian juga jadi membosankan bagi kedua pihak.

Jika kita mulai merasa bosan dalam pernikahan, sekadar mengeluh, marah, mencari pelarian di luar, apalagi berpikir untuk berpisah atau berlaku tak setia, semua itu tak ada gunanya dan hanya akan memperparah. Rasa bosan itu tanda dan harus ditindaklanjuti dengan mencari obatnya. Bersama-sama, coba teliti mana aspek yang membuat bosan. Apa karena komunikasi pribadi yang kurang, keintiman yang memudar, rutinitas tanpa henti, atau kita yang hanya fokus pada hal negatif dan mengabaikan hal-hal baik yang ada, dll. Obat melawan bosan adalah tak membiarkan diri disandera oleh kebosanan. Kita harus aktif, tak cuma menunggu. Kita harus berubah dan bukan larut oleh perasaan (bdk. Rm. 12:2). Sadari jika waktu itu berharga dan harus dipakai sebaik-baiknya (Ef. 5:16). Entah dalam pernikahan, mengasuh anak, bekerja, dll, lakukan itu dengan segenap hati dan seperti untuk Tuhan (Kol. 3:23). Dengan demikian, kita akan memaknai dan menjalankan hal-hal itu sebagai hal berharga yang harus diperjuangkan. • @

Ubahlah rasa bosan itu dan jangan larut ke dalamnya.

Obsesi Terlihat Kaya

Juni 2, 2020

Perusahaan Sempurna, Adakah?

Juni 2, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *