Memandang Muka

RH Spirit 01 September 2022

Yakobus 2:1-13

Tetapi, jikalau kamu memandang muka, kamu berbuat dosa, dan oleh hukum itu menjadi nyata, bahwa kamu melakukan pelanggaran.
Yakobus 2:9

 

Dalam membuat pilihan, tentu saja kita akan memilih sesuatu yang kita anggap lebih baik atau lebih menguntungkan bagi kita. Menginap di losmen atau hotel bintang 5? Naik mobil mewah atau bus tanpa AC? Soal ujian mudah atau sulit? Jawabannya sudah jelas. Tapi, ternyata hal serupa tanpa sadar juga kita lakukan dalam hal memperlakukan orang lain. Sikap kita kepada orang lain sering kali kita bedakan menurut mana yang kita rasa lebih menguntungkan kita.

Kepada yang tampak kaya atau berpangkat tinggi, kita lebih sopan karena tanpa sadar kita berpikir mungkin ia bisa memberi kita sesuatu. Kepada yang cantik/ganteng, kita lebih ramah karena kita lebih suka berhubungan dengan mereka. Sebaliknya, kepada yang penampilannya lusuh, tampaknya tidak berduit, kita merasa mereka tak akan memberi kita manfaat apa-apa, bahkan mungkin menyusahkan kita. Maka, sikap kita pun tidak sebaik yang di atas. Inilah yang diperingatkan oleh Yakobus. Bahkan teguran ini ditujukan kepada jemaat Tuhan. Ya, gereja yang seharusnya mengasihi sesama tanpa terkecuali ternyata masih bisa jatuh ke dalam sikap memandang muka ini.

Pesan dari perikop ini sangat jelas. Pertama, tindakan memandang muka adalah dosa, sebab kita diperintahkan untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri (ay. 8-9). 1 Korintus 10:24 juga memerintahkan kita untuk tidak mencari keuntungan bagi diri sendiri, tapi justru kita harus memberi manfaat bagi orang lain. Kedua, jika Allah justru lebih sering memakai mereka yang dipandang rendah oleh dunia untuk melakukan hal-hal besar, bagaimana bisa kita justru merasa berhak membeda-bedakan orang menurut cara pandang duniawi kita (ay. 4-5)? Kecenderungan manusia daging kita adalah mencari keuntungan bagi diri sendiri, termasuk saat berhubungan dengan orang lain. Tapi, hari ini kita mengerti bahwa sebagai manusia baru, sudah seharusnya kita kini memiliki cara pikir dan cara pandang seperti Kristus. Sesungguhnya Tuhan tidak pernah membedakan manusia dari penampilan, status sosial, kepintaran, keturunan, suku, dsb. Di mata-Nya, semua manusia berharga dan layak dikasihi. Mari miliki cara pandang yang demikian juga. • ARC

Membeda-bedakan manusia hanya karena penampilannya adalah dosa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Topeng Penundaan (2)

Agustus 2, 2022

Kekurangan jadi Kekuatan

Agustus 2, 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.