Nilai Ekonomi & Nilai Diri

RH Spirit 01 Oktober 2021

Markus 12:41-44

Siapa mengolok-olok orang miskin
menghina Penciptanya
Amsal 17:5

 

Undangan reuni ataupun pertemuan dengan keluarga besar di hari raya mestinya adalah acara yang menyenangkan. Bagaimana tidak, kita bisa bertemu kembali dengan teman lama, kerabat yang lama tak jumpa, berbagi cerita, kabar, dan kenangan. Namun, bagi sebagian orang, acara seperti itu justru selalu berusaha mereka hindari. Apa sebabnya? Mereka merasa minder karena merasa dirinya belum sesukses rekan-rekannya, karena masih naik motor sedang kerabatnya bermobil mewah. Rasanya malu jika ditanya pekerjaan sementara teman atau saudaranya adalah para pimpinan perusahaan.

Pengkhotbah 9:16 berkata,hikmat orang miskin dihina dan perkataannya tidak didengar orang. Bukan berarti menghina hikmat orang miskin itu baik, tapi Pengkhotbah sedang menunjukkan realita yang kerap terjadi. Ya, dunia sering menilai orang hanya dari hartanya saja. Jika yang bicara orang kaya, semua menyimak, tapi jika yang bicara orang miskin, tak ada yang memerhatikan. Tapi, hari ini kita baca bagaimana cara penilaian Tuhan. Dua peser persembahan si janda miskin secara nominal jelas sangat sedikit. Tapi di mata Yesus, justru persembahan itulah yang terbanyak. Bukan karena jumlah tapi karena pengorbanan dan kerelaan hatinya untuk memberi. Itulah cara penilaian Allah.

Ini bukan berarti orang miskin pasti lebih berkenan di mata Tuhan ketimbang orang kaya. Abraham, Ishak, Ayub juga orang kaya, tapi mereka berkenan di mata Allah. Sebaliknya ada orang-orang yang miskin karena malas dan Tuhan mengecam mereka (Ams. 6:9-11). Tuhan tidak melihat harta kita tapi Ia melihat sikap hati kita, terutama terhadap harta. Apakah ada tidaknya harta memengaruhi iman kita? Apakah kekayaan membuat kita melupakan Dia atau menghina sesama (Ams. 17:5)? Apakah kemiskinan membuat kita menganggap Tuhan tidak mengasihi kita? Apakah harta lebih kita utamakan dan lebih kita kejar ketimbang kehendak dan perkenanan Tuhan? Apakah kita menganggap nilai diri kita (atau orang lain) hanya ditentukan jumlah harta? Itulah yang Tuhan lihat dari kita. Maka, tak perlu minder hanya karena tak berharta, jangan pula sombong karena kaya harta. Lihatlah dulu bagaimana Tuhan memandang kita, itulah yang lebih penting dari penilaian manusia! • ARC

Jangan pernah menghina atau menghargai orang hanya karena hartanya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bertekun Dalam Kesalehan

September 3, 2021

Back to Bible!

September 3, 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *