Risiko Tidak Kompak

RH Spirit Woman 01 September 2020

Pengkhotbah 4:9-12

Berjalankah dua orang bersama-sama,
jika mereka belum berjanji?
Amos 3:3

 

Satu kali Anda sedang mencari alamat di satu daerah asing. Untung, di sana Anda melihat ada dua warga setempat. Anda pun bertanya, “Permisi, saya sedang mencari rumah Ibu A, apakah Anda tahu di mana rumahnya?” Mereka berdua menunjuk ke satu arah. Tapi, yang satu menunjuk ke kanan dan yang satu ke kiri. Dan mereka sama-sama yakin dan berkeras, di situlah rumah Ibu A. Nah bingung kan? Informasi mereka pun sama-sama tidak berguna.

Bagi seorang anak, ucapan orang tua bisa dibilang adalah kebenaran bagi mereka. Namun, apa yang terjadi jika keduanya tidak kompak? Sementara ibunya melarang, ayahnya mengizinkan, sementara ayahnya bilang nanti, ibunya memberikan sekarang. Mungkin awalnya anak akan bingung. Mana yang benar? Kenapa saya dimarahi ibu padahal ayah tidak apa-apa? Kenapa ayah dan ibu justru jadi bertengkar karena saya? Di sisi lain, lama kelamaan, anak bisa memanfaatkan ketidakkompakan ini. Untuk hal tertentu, ia tahu ayah yang akan mengizinkan. Tapi untuk hal lain, ibu pasti mengizinkan. Jadi, ia hanya akan meminta izin kepada salah satu orang tua saja. Akhirnya, Anda dan suami pun bertengkar. Tidak hanya itu, ketidakkompakan orang tua juga bisa memunculkan ketidakpercayaan anak kepada orang tua (atau salah satu orang tua).

Beda pendapat dalam pernikahan itu hal biasa. Kita tak mungkin bisa selalu sepakat dalam segala hal. Tapi, kita harus bisa merespons beda pendapat itu dengan benar. Komunikasilah kuncinya. Cara berkomunikasi juga penting. Misalnya, saat beda pendapat, alangkah baiknya itu dibicarakan empat mata saja dan bukan di depan anak. Ya, dua kepala memang berarti dua cara pandang dan dua pendapat. Tapi, dua kepala juga berarti dobel kekuatan, di mana kita bisa saling menopang dan mendukung (Pkh. 4:10-12). Manakah fokus kita? Apakah kita akan terus meributkan perbedaan pendapat itu? Atau kita mau memanfaatkan perbedaan itu untuk saling bekerja sama dan mengisi? Menjadi orang tua yang kompak memang tidak bisa terjadi begitu saja. Perlu usaha, perlu saling berkorban, perlu kerendahhatian, dan sekali lagi, membina komunikasi agar Anda dan suami bisa sepakat. Sebab tanpa sepakat, kita tak akan bisa ke mana-mana (Am. 3:3). • @

Perbedaan bisa membuat masalah, tapi juga bisa memunculkan kekuatan.

Siapa yang Kita Percaya?

Agustus 4, 2020

Sehat itu Ber(k)at

Agustus 4, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *