Trust your Team

RH Spirit Motivator 01 Februari 2026

Hakim-Hakim 6:1-23

Maka jawabnya kepada-Nya: “Jika sekiranya aku mendapat kasih karunia di mata-Mu,
maka berikanlah kepadaku tanda, bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku.
Hakim-Hakim 6:17

 

Cinta adalah percaya. Bisakah dikatakan cinta jika istri selalu curiga suaminya selingkuh, atau merasa suaminya tak akan bisa memimpin keluarga dan keputusannya tak akan baik? Sebaliknya, bisakah dikatakan cinta jika seorang suami tak pernah memperhitungkan pendapat istrinya, merasa istrinya tak akan mampu menjalankan perannya sebagai istri dan ibu bagi anaknya? Tidak, itu bukan cinta.

Tanpa rasa percaya, sebuah relasi tidak akan bertahan. Ini tak hanya berlaku di pernikahan, tapi juga di dunia kerja. Rasa percaya harus ada dan dijaga. Stephen Covey berkata, rasa percaya muncul dari dua hal: karakter dan kompetensi. Karakter adalah soal integritas, tanggung jawab, motivasi dan sikap kita terhadap orang lain. Sedangkan kompetensi adalah tentang keahlian, pengalaman, skill, atau rekam jejak kita. Cerdas dan punya pengalaman, tapi semena-mena memperlakukan orang lain, atau jujur tapi tak punya kemampuan, keduanya sama-sama sulit membuat orang percaya. Maka, untuk bisa dipercaya orang lain, kita harus punya kedua hal ini. Begitu juga, sebelum percaya kepada orang lain, lihatlah dulu apakah orang itu punya kedua hal ini?

Ini butuh proses. Kita tak bisa serta merta tahu karakter ataupun kemampuan seseorang. Namun, ada satu lagi yang bisa membuat orang sulit percaya orang lain, yaitu karena mereka juga tak percaya pada dirinya sendiri. Gideon perlu waktu untuk benar-benar percaya pada Tuhan. Bukan karena Tuhan kurang baik atau berkuasa, tapi karena ia tak percaya potensinya sendiri. Maka, untuk menciptakan rasa percaya di sebuah tim, kita harus bisa mendorong tiap orang percaya pada kemampuannya juga, Ciptakan budaya saling mengapresiasi, melakukan delegasi, dan konsistensi dalam melakukannya.

Bisa jadi kemampuan si A memang masih kurang. Tapi, ketika ia tetap percaya pada dirinya dan pada potensi yang Tuhan taruh di dirinya, maka ia bisa belajar dan mengembangkan diri. Dan mereka yang lebih senior juga harus percaya dan bersedia untuk membimbingnya. Budaya seperti inilah yang harus dipupuk dalam tim atau tempat kerja Anda sehingga tercipta rasa saling percaya. • Uta

Bisa percaya, bisa dipercaya, dan bisa mempercayai potensi diri sendiri

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Yesus Berani Mengasihi

Januari 9, 2026

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *