RH Spirit Next 01 Februari 2026
Filipi 2:4-8
Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku
telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.
Yohanes 13:34
Daniel adalah seorang pengrajin kayu. Akhir-akhir ini, dagangannya sepi dan hari itu ia cuma punya satu porsi bekal untuk makan hari itu. Tiba-tiba, datang seorang pemuda asing yang dijauhi orang dan dalam keadaan kelaparan. Ia meminta sesuatu kepada Daniel untuk mengganjal perutnya. Akhirnya, Daniel tergerak untuk memberikan bekal yang ia miliki. Saat memberi, Daniel inget akan firman Tuhan yang kemaren baru aja ia baca: “Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang yang paling hina ini, kamu sudah melakukannya untuk Aku.” (Mat. 25:20) Hari itu, Daniel emang kerja dengan perut kosong, tapi hatinya penuh. Sore harinya, Tuhan mencukupkan kebutuhan Daniel dengan cara yang nggak terduga. Tiba-tiba saja, ada pembeli yang memborong hasil kerajinan kayunya.
Yesus adalah pribadi yang berani mengasihi. Ia nggak sekadar berkata “Aku mengasihimu”, tapi bener-bener menunjukkannya lewat tindakan. Ia adalah Anak Allah, Raja atas segala raja. Tapi, Ia berani melepas kemuliaan yang tiada tara itu untuk menjadi sama seperti manusia dan mengasihi mereka. Puncaknya, Ia berani memberikan nyawa-Nya untuk manusia. Dengan berani, Ia menggantikan manusia di kayu salib. Ia berani menanggung rasa sakit dan malu yang luar biasa agar manusia yang dikasihi-Nya dapat hidup bebas dari belenggu dosa.
Kasih, pada kenyataannya, sering kali emang membutuhkan keberanian. Saat kita mengasihi, kita harus berani memberi walau kita sendiri dalam keadaan kekurangan. Saat kita mengasihi, kita harus berani mendekati mereka yang dihindari banyak orang. Saat kita mengasihi, kita harus berani berkorban. Kasih Yesus adalah teladan dari courageous love yang sempurna, dan Ia mau kita mengikutinya. Kasih-Nya nggak berdasarkan kebaikan yang diterima, melainkan kasih agape yang rela berkorban tanpa pamrih, bahkan pada mereka yang nggak membalasnya atau yang mengkhianati-Nya. Kalo kita emang adalah anak-anak-Nya, maka keberanian yang sama ini juga perlu kita miliki. Milikilah kasih yang berani, yakni kasih yang rela berkorban agar orang-orang yang ada di sekitar kita dapat ngerasain gimana rasanya kasih yang sejati. • Dn
Cinta yang sejati membutuhkan pengorbanan.
Francis Chan – Pengkhotbah