RH Spirit 01 Maret 2026
1 Samuel 2:11-26
Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.
Amsal 29:17
Bahasa Indonesia mengenal istilah “ibu kota” bagi kota pusat pemerintahan, “ibu pertiwi” sebagai sebutan untuk tanah air tercinta. Sebutan-sebutan yang positif, menggambarkan ibu sebagai pusat dan sesuatu yang mulia dan disayangi. Sebaliknya, kata “bapak” justru dikaitkan hal-hal yang lebih negatif. Ada istilah “asal bapak senang” atau “bapakisme” yang merujuk pada pola relasi atasan dan bawahan, di mana bawahan harus selalu patuh, tunduk, dan mengagungkan atasannya. Saya tidak tahu jangan-jangan ini adalah refleksi hubungan orang Indonesia dengan ayah mereka. Atau jangan-jangan ini bahkan cerminan bagaimana bangsa ini mengalami situasi fatherless karena ayah hanya dimaknai sebagai sosok yang ditakuti dan suka mengatur saja.
Pada realitanya, generasi tanpa ayah ini benar-benar terjadi di mana-mana. Mereka bukan tak punya ayah dalam arti sebenarnya. Mereka mungkin tetap berjumpa ayahnya setiap hari, tapi sang ayah tak berfungsi sebagai bapak. Menurut para ahli, jika ketidakhadiran ibu secara langsung lebih banyak berdampak pada kemampuan akademis anak, ketidakhadiran ayah akan berdampak pada psikologis dan perilaku anak. Tentu ini sama sekali tidak mengecilkan peran ibu yang jelas sangat penting. Tapi, jangan pernah lupa bahwa baik untuk anak perempuan dan terutama anak laki-laki, keberadaan ayah sangat penting. Ayah berpengaruh mulai dalam perkembangan kesadaran identitas gender anak hingga dalam hal psikologis, kemampuan hidup, pengambilan keputusan, dsb. Ya, jangan pernah kita remehkan masalah ketidakhadiran ayah ini.
Hofni dan Pinehas bukan tidak punya ayah, tapi ayahnya tidak berfungsi, bahkan memberikan teladan yang buruk. Fakta bahwa imam Eli baru menegur kedua putranya setelah mendengar laporan dari luar (ay. 22) mengindikasikan ia kurang perhatian terhadap anak-anaknya, bahkan ia menegur lebih untuk menjaga nama baiknya sendiri. Tak heran, tegurannya pun tak diindahkan. Ayah harus berperan bukan hanya saat anak melakukan kesalahan, tapi di setiap saat dengan memberi teladan dan perhatian. Ini yang lebih penting dan dibutuhkan anak! • ARC
Bukan sekadar ada, tapi ayah harus berfungsi dan menjadi teladan bagi anak-anaknya