RH Spirit 01 Januari 2026
Mazmur 119:105, 2 Korintus 5:7
Sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya,
bukan karena melihat
2 Korintus 5:7
Pada 1983, George Meegan menginjakkan kakinya di Prudhoe Bay, wilayah paling utara Alaska. Ia adalah orang pertama yang telah berjalan melintasi benua Amerika. Dimulai dari Ushuaia, Argentina, ia berjalan kaki selama 2426 hari dan tercatat menempuh jarak 30.608 km dengan 41 juta langkah. Perjalanannya dicatat di rekor dunia sebagai perjalanan terpanjang yang dilakukan seseorang tanpa memakai alat transportasi apapun selain kakinya. Kita mungkin tak pernah berkeinginan untuk berjalan kaki selama 7 tahun dan menempuh jarak 30 ribu kilometer atau menempuh 41 juta langkah. Tapi, sepanjang usia kita hingga kini, kemungkinan banyak dari kita sudah melangkah lebih banyak dari yang dilakukan Meegan saat itu. Ini karena diperkirakan rata-rata orang modern menempuh 200 juta langkah dalam hidupnya (dengan asumsi usianya saat itu adalah 80 tahun).
Tak ada orang yang berencana akan melakukan sekian juta langkah dalam hidupnya. Yang kita lakukan hanyalah melangkah satu demi satu. Tapi, dari satu langkah ke langkah lain, kita pun dibawa ke hari-hari dan pengalaman yang makin banyak. Di awal tahun ini, marilah kita berefleksi tentang seberapa jauh kita sudah menjalani hidup di dunia ini. Dari begitu banyak hal yang kita alami, sejujurnya, bukankah ada banyak hal yang sama sekali tak pernah kita bayangkan atau rencanakan? Saat masih kecil, kita mungkin tidak pernah membayangkan akan bekerja di bidang yang kini kita geluti, menikah dengan sosok seperti pasangan kita, mengalami hal ini dan itu, dsb. Namun, jika hari ini kita ada di tempat kita saat ini, selain itu adalah seizin Tuhan, itu juga buah dari tiap respons dan keputusan kita.
Namun, berapa banyak kita yang kadang masih bimbang menatap masa depan? Dua ayat hari ini bisa menjadi bekal sebelum kita kembali melangkah di hari-hari mendatang di tahun ini. Pertama, pakailah pelita firman Tuhan agar kita tidak jatuh tersandung atau mengambil arah yang salah. Dua, ingatlah bahwa yang lebih penting bukan seberapa jauh kita melangkah, melainkan apakah kita tetap setia di jalan yang benar? Biarlah setiap langkah yang kita ambil adalah atas dasar iman percaya pada-Nya dan bukan semata atas dasar pemikiran kita sendiri. • Tad
Bukan seberapa jauh kita melangkah, tapi apakah kita tetap setia di jalan yang benar?