Kekurangan jadi Kekuatan

RH Spirit Motivator 01 September 2022

2 Samuel 12:1-25

Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati
2 Samuel 12:13

 

Apakah makin tinggi jabatan seseorang maka ia juga lebih bijak dan lebih peduli pada orang lain? Kita mungkin berpikir jawabannya ya. Tapi, menurut Travis Bradberry di buku Emotional Intelligence 2.0, yang terjadi tidak demikian. Studi di banyak perusahaan Amerika menunjukkan level EQ (Kecerdasan Emosional) tertinggi biasanya dimiliki manajer menengah. Ini karena perusahaan akan lebih memilih mempromosikan mereka yang berkepala dingin dan diterima orang-orang. Yang mengejutkan adalah level EQ terendah banyak dimiliki direktur, CEO, dan pemimpin top level! Pemimpin di posisi puncak itu tentu awalnya juga manajer menengah dengan EQ tinggi. Nah, mengapa makin di atas, kecerdasan emosional mereka menurun? Ini yang disebut fenomena blind spot atau titik buta pemimpin.

Di mobil, ada titik buta di mana pengemudi tidak bisa melihat jika ada objek di situ. Ini sering menjadi penyebab kecelakaan. Demikian pula, titik buta pemimpin adalah hal-hal yang tak disadari pemimpin bisa merusak tim, juga kredibilitas dan reputasi pemimpin. Ini bisa berupa kebiasaan, cara memimpin, sikap, atau kelemahan yang dibiarkan. Kebiasaan menjadi single fighter (tak mau dibantu), merasa lebih tahu dari semua orang, suka menyalahkan, memakai kekuasaan untuk agenda pribadi terhadap seorang di perusahaan, standar yang terlalu rendah, dll, adalah contoh titik buta pemimpin.

Titik buta di mobil bisa diatasi dengan memasang kamera atau bantuan orang lain. Demikian pula titik buta seorang pemimpin. Pemimpin juga butuh bantuan orang lain yang ia percaya. Secara berkala kita butuh feedback, masukan, bahkan kritik. Kita butuh orang-orang yang dapat memberi pemikiran dan pengalamannya. Kita butuh mendengarkan tim dan bawahan kita. Kita juga mesti mau mengevaluasi diri, misalnya dengan melihat pengalaman masa lalu, mengakui mana kelemahan kita dan hal-hal apa yang bisa memicunya. Daud butuh Natan untuk menegur kesalahannya. Meski pahit tapi nyatanya itu menyelamatkan Daud dari kehancuran lebih parah. Demikian juga kita. Jangan puas hanya karena semua tampak baik dan lancar. Selalu peduli, selalu dengarkan, dan selalu evaluasi diri, agar jangan sampai kita baru menyadari titik buta itu saat semua sudah terlambat! • ARC

Jangan puas saat semua tampak baik, selalulah mengevaluasi diri!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Memandang Muka

Agustus 5, 2022

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.