Mertua Jahat, Mertua Baik

RH Spirit Woman 01 Maret 2020

Kej. 30:25-43, Kel. 18:1-12

Engkau harus bangun berdiri di hadapan orang ubanan dan engkau harus menaruh hormat kepada orang yang tua dan engkau harus takut akan Allahmu; Akulah TUHAN.
Imamat 19:32

 

Di film dan cerita banyak digambarkan sosok mertua jahat. Popularitasnya barangkali sama dengan gambaran ibu tiri jahat. (Ibu) mertua digambarkan suka mencampuri dan mengatur-atur anak dan menantunya, suka menindas, menghina, memanipulasi, bahkan berusaha memisahkan putranya dengan istrinya sendiri. Mertua seperti itu tentu ada. Laban adalah salah satu contohnya. Sebagai bapak mertua, sikapnya terhadap Yakub tak layak dicontoh. Ia memanipulasi, curang, dan tidak adil terhadap menantunya justru karena Yakub amat rajin dan mencintai putrinya.

Gambaran kontras bisa kita temukan pada diri Yitro, mertua Musa. Sementara Yakub membawa anak istrinya kabur dari rumah Laban, Yitro datang kepada Musa dengan membawa anak dan istri Musa. Jika Laban mengejar Yakub dan menuduhnya mencuri, Yitro datang memberi selamat pada Musa. Jika Laban selalu menipu Yakub agar ia bekerja lebih keras untuknya, Yitro memberi saran berharga agar Musa tak kelelahan akibat bekerja terlalu keras. Yang satu egois, yang satu perhatian. Yang satu menghambat menantunya berhasil, yang satu gembira atas keberhasilan sang menantu.

Jika kita seorang mertua, kita tahu siapa yang harus lebih dicontoh. Sebagai yang lebih tua, hidup kita harus bisa jadi teladan yang membimbing yang muda (Tit. 2). Sebaliknya, jika kita adalah seorang menantu, sadari bahwa yang terutama adalah kita harus punya respons yang benar, entah mertua kita seperti Yitro atau seperti Laban. Yakub sendiri tetap menghargai Laban, terbukti ia tetap bekerja sungguh-sungguh meski diperlakukan kurang baik oleh mertuanya. Ia bahkan tetap minta izin pada Laban sebelum melakukan segala sesuatu. Apapun yang mertua sudah lakukan, tetaplah menghargai dan menghormatinya. Tak hanya karena ia orang tua dari suami kita, tapi karena itulah seharusnya sikap anak Tuhan terhadap orang yang lebih tua (Im. 19:32, 1 Tim. 5:1). Tindakan salah tak akan jadi benar jika kita balas dengan cara salah pula. Namun, respons yang positif dan benar akan menyadarkan mereka yang berbuat salah. Doakan mertua Anda, hormati dia, dan jika ada ganjalan dalam hubungan Anda, fokuskan kepada masalahnya saja, bukan melebar dan menyerang pribadi atau hal-hal lain yang justru bisa membuat masalah makin besar. • @

Seperti apapun mertua kita, tetap hargai dan hormati mereka.

 

Rohani dan Jasmani

Februari 11, 2020

You Get What You Give

Februari 11, 2020

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *